Tarif Impor Baru Trump Tekan Rupiah ke Rp17.725 per Dollar AS
RuangOjol.com, JAKARTA - Tarif impor baru Trump kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah Amerika Serikat berencana mengenakan kebijakan perdagangan tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia. Sentimen tersebut langsung memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (16/6/2026).
Nilai tukar rupiah tercatat melemah tipis saat penutupan pasar spot. Mata uang Garuda turun 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.725 per Dollar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kebijakan perdagangan Amerika Serikat terhadap ekspor nasional.
Selain itu, investor juga mencermati berbagai perkembangan ekonomi global, mulai dari perundingan geopolitik di Timur Tengah hingga keputusan sejumlah bank sentral dunia. Kombinasi faktor eksternal tersebut membuat pasar bergerak lebih hati-hati dalam beberapa hari terakhir.
Tarif Impor Baru Trump Jadi Sentimen Negatif untuk Rupiah
Rencana penerapan tarif impor baru Trump dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menekan kurs rupiah. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan hambatan perdagangan bagi produk Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan itu dapat mengurangi daya saing produk ekspor Indonesia. Jika tarif meningkat, biaya masuk produk ke pasar AS akan lebih tinggi sehingga permintaan berpotensi menurun.
Pemerintah Amerika Serikat berencana menerapkan tarif tambahan berdasarkan Pasal 301 Trade Act 1974. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku secara bertahap pada 24 Juli 2026.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan beberapa negara lainnya. Setelah investigasi terkait kapasitas produksi berlebih selesai dilakukan, tarif tersebut diperkirakan dapat meningkat hingga 18 persen.
Saat ini, produk Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat juga masih dikenakan tarif global sebesar 10 persen berdasarkan Pasal 122 Trade Act yang berlaku sejak Februari 2026.
Dampak terhadap Ekspor Nasional
Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar ekspor terbesar bagi Indonesia. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan perdagangan dari negara tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja ekspor nasional.
Data menunjukkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat pada periode Januari hingga Juni 2025 mencapai 14,79 miliar Dollar AS. Angka itu setara dengan sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Produk ekspor utama yang dikirim ke pasar AS antara lain:
- Mesin dan peralatan listrik
- Alas kaki
- Pakaian jadi
- Aksesori pakaian
- Produk manufaktur lainnya
Jika tarif impor meningkat, sektor manufaktur nasional berpotensi menghadapi tekanan. Selain penurunan ekspor, kondisi tersebut dapat memengaruhi tingkat utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Namun, pemerintah disebut terus melakukan berbagai upaya diplomasi perdagangan guna mengamankan produk unggulan Indonesia agar tetap kompetitif di pasar internasional.
Sentimen Global Ikut Memengaruhi Pasar
Di sisi lain, pasar keuangan global juga mendapat sentimen dari perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Kesepakatan tersebut membuka peluang normalisasi aktivitas perdagangan energi melalui Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak dunia mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Harga Minyak Turun, Risiko Inflasi Mereda
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan harga energi membuat pelaku pasar lebih optimistis terhadap prospek inflasi global.
Sementara itu, pasar saham global menunjukkan penguatan karena investor memperkirakan biaya energi yang lebih rendah dapat membantu menekan tekanan harga di berbagai negara.
Meskipun begitu, investor masih menunggu kepastian mengenai implementasi perjanjian tersebut. Pasalnya, gencatan senjata permanen masih memerlukan proses negosiasi lanjutan antara kedua negara.
Fokus Investor Beralih ke Kebijakan Bank Sentral
Selain isu perdagangan dan geopolitik, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Kebijakan moneter dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.
Bank Sentral Jepang atau BOJ baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun terakhir.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi sekaligus melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneter Jepang secara bertahap.
Sementara itu, Bank Cadangan Australia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen setelah sebelumnya melakukan beberapa kali kenaikan.
Investor kini menantikan keputusan Federal Reserve Amerika Serikat serta Bank of England yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga AS ke depan.
Karena itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu berbagai keputusan penting tersebut.
Prospek Rupiah Masih Dipengaruhi Faktor Eksternal
Pelemahan rupiah ke level Rp17.725 per Dollar AS menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan global. Tarif impor baru Trump menjadi salah satu faktor yang meningkatkan ketidakpastian bagi sektor perdagangan Indonesia.
Selain itu, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kondisi geopolitik Timur Tengah, serta pergerakan harga minyak dunia akan terus memengaruhi sentimen investor dalam beberapa waktu mendatang.
Apabila ketegangan perdagangan semakin meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Namun, stabilitas ekonomi domestik dan langkah pemerintah dalam menjaga ekspor dapat menjadi faktor penahan agar pelemahan tidak berlangsung lebih dalam.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pelaku pasar dan dunia usaha diharapkan tetap mencermati perkembangan kebijakan internasional yang berpengaruh langsung terhadap perekonomian nasional.
