
Ruangojol.com - Arus modal asing menekan rupiah ketika investor global memindahkan dana ke aset yang mereka anggap lebih aman. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut fenomena pelarian modal atau capital flight itu turut memengaruhi pasar keuangan di Indonesia.
Dalam program Central Banking CNBC Indonesia, Destry menjelaskan investor asing mencari aset yang dinilai relatif aman, termasuk dolar AS. Pergerakan dana tersebut tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga terlihat pada kepemilikan surat berharga negara (SBN) dan instrumen moneter BI.
Arus modal asing menekan rupiah saat investor mencari aset aman
Capital flight menggambarkan keluarnya dana dari satu negara menuju negara lain dalam jumlah besar. Investor menarik atau memindahkan investasinya saat mereka menilai ada tujuan lain yang lebih aman dan stabil.
Destry mengatakan tren itu terjadi di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam keterangannya, investor yang memegang dolar AS dapat memandang mata uang tersebut sebagai aset yang relatif aman di tengah ketidakpastian global.
Ketika dana bergerak keluar dari pasar domestik, permintaan terhadap rupiah dapat ikut tertekan. Karena itu, perubahan arah investasi asing menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan nilai tukar.
Namun, keterangan BI tersebut juga menunjukkan bahwa tekanan tidak berhenti pada pasar valuta asing. Investor asing turut mengurangi kepemilikan instrumen keuangan di dalam negeri. Aliran keluar di beberapa pasar itu menggambarkan bagaimana keputusan investasi global dapat menjalar ke berbagai aset.
Investor asing melepas SBN dan SRBI
Selain rupiah, SBN ikut terkena dampak arus keluar modal asing. Destry menyebut Indonesia sempat mencatat outflow asing yang cukup besar dari surat utang pemerintah. Ia juga menyampaikan bahwa aliran keluar terjadi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
SBN merupakan surat berharga yang diterbitkan pemerintah, sedangkan SRBI menjadi instrumen yang diterbitkan BI. Keduanya berbeda, tetapi sama-sama dapat menjadi tempat penempatan dana investor. Saat investor asing mengurangi kepemilikan, pasar dapat merasakan tekanan dari berkurangnya aliran dana.
Outflow tidak berarti seluruh investor asing keluar sekaligus. Istilah itu menunjukkan adanya dana yang bergerak keluar dalam suatu periode, sementara besar dan lamanya tekanan dapat berubah mengikuti keputusan investor.
Dalam penjelasannya, Destry menghubungkan keluarnya dana dari SBN dan SRBI dengan kecenderungan global mencari aset yang dianggap lebih aman. Dengan demikian, tekanan pada instrumen domestik tidak dapat dilihat terpisah dari perubahan minat investor terhadap aset di berbagai negara.
Spread yield SBN dan US Treasury makin menyempit
Destry juga menyoroti kenaikan imbal hasil atau yield SBN setelah investor asing melepas sebagian kepemilikannya. Ia menyebut yield US Treasury sempat naik hingga 5,3 persen, sementara yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,2 persen.
Perbandingan kedua imbal hasil itu penting karena investor dapat melihat selisihnya saat menilai daya tarik aset. Ketika yield obligasi AS naik lebih tinggi, spread antara SBN dan US Treasury dapat menyempit. Destry mengatakan kondisi tersebut ikut berkaitan dengan outflow di negara-negara berkembang.
Spread adalah jarak antara dua tingkat imbal hasil. Dalam konteks yang disampaikan Destry, selisih yang makin kecil muncul ketika kenaikan yield di AS mempersempit perbedaan terhadap yield SBN. Angka 5,3 persen dan sekitar 7,2 persen yang ia paparkan menggambarkan kondisi saat itu, bukan jaminan bahwa selisih akan tetap sama.
Perubahan yield juga menjadi bagian dari sinyal pasar yang diamati investor. Karena itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat memengaruhi cara investor membandingkan aset di pasar berkembang, termasuk SBN Indonesia.
Pergerakan global berpengaruh pada beberapa pasar
Rangkaian yang dijelaskan BI memperlihatkan keterkaitan antara nilai tukar dan pasar surat utang. Ketika investor memindahkan dana untuk mencari aset yang dianggap aman, rupiah dapat menghadapi tekanan, sementara SBN dan SRBI dapat mencatat aliran keluar.
Meski begitu, dampaknya pada tiap instrumen tidak selalu identik. Nilai tukar, kepemilikan surat utang, dan yield memiliki ukuran serta mekanisme pasar masing-masing. Keterangan Destry menempatkan capital flight global sebagai konteks yang menghubungkan tekanan tersebut.
Bagi pembaca, perkembangan ini membantu menjelaskan mengapa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi dalam negeri. Keputusan investor lintas negara dan perubahan imbal hasil obligasi AS juga masuk dalam pertimbangan pasar.
BI menyampaikan bahwa Indonesia turut mengalami dinamika yang juga terjadi di negara berkembang lain. Pernyataan Destry menyoroti arus dana, minat terhadap dolar AS, serta penyempitan spread yield sebagai bagian dari kondisi yang menekan pasar keuangan.
Situasi itu dapat berubah seiring pergeseran penilaian investor terhadap aset dan risiko. Karena itu, perkembangan rupiah dan pasar SBN perlu dibaca bersama dengan arus modal serta perbandingan yield, bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.