IHSG Turun 1,02%, Rupiah Melemah, Yield SBN Naik ke 7,159%

Editor Jaya Purnama
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

IHSG Turun 1,02%, Rupiah Melemah, Yield SBN Naik ke 7,159%

Ruangojol.com - Jakarta, pasar keuangan domestik kembali mengalami tekanan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,02% ke level 6.009,50. Penurunan tersebut menjadi yang keenam secara berturut-turut dan membawa IHSG ke level terendah dalam dua bulan.

Pada saat yang sama, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat hingga Rp17.963 per dolar AS. Tekanan juga terlihat di pasar surat utang negara. Yield SBN 10 tahun naik dari 7,106% menjadi 7,159%.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terjadi secara bersamaan di pasar saham, valuta asing, dan obligasi. Penguatan dolar AS, harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel, serta ketidakpastian setelah reshuffle kabinet menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor.

IHSG Turun Enam Hari Beruntun

IHSG mengakhiri perdagangan 1 Oktober 2026 di level 6.009,50. Angka tersebut turun 1,02% dibandingkan level sebelumnya yang berada di 6.071,14.

Penurunan berlangsung selama enam hari perdagangan secara beruntun. Sepanjang September 2026, IHSG juga tercatat turun 7,95%. Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan yang cukup kuat terhadap pasar saham domestik.

Analis mengaitkan tekanan pasar dengan reshuffle kabinet pada 1 Oktober. Menteri Keuangan tidak mengalami pergantian, tetapi terdapat pergantian wakil menteri keuangan serta sejumlah menteri lainnya. Perubahan tersebut memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan.

Selain faktor domestik, arus dana investor asing turut menjadi perhatian. Investor asing tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp1,61 triliun pada 30 September. Pada sesi I perdagangan 1 Oktober, jual bersih investor asing tercatat sekitar Rp204,3 miliar.

Rupiah Melemah dan Yield SBN Naik

Tekanan pasar juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Kurs rupiah bergerak dari Rp17.855 menjadi Rp17.963 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah melemah sekitar 0,60%.

Penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Indeks dolar AS berada di level tertinggi dalam dua bulan. Selain itu, permintaan dolar pada akhir kuartal turut memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.

Harga minyak Brent juga bertahan di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar.

Sementara itu, yield SBN 10 tahun meningkat dari 7,106% menjadi 7,159%. Yield merupakan imbal hasil obligasi dan bergerak berlawanan dengan harga obligasi. Karena itu, ketika yield naik, harga obligasi cenderung turun.

Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat atau UST 10 tahun justru turun dari 5,293% menjadi 5,246%. Namun, level tersebut masih berada di kisaran tertinggi sejak 2007, yakni sekitar 5,2% sampai 5,3%. Kondisi tersebut membuat investor global tetap memperhatikan tingkat imbal hasil aset di Amerika Serikat.

Apa Arti Tekanan Pasar bagi Investor?

Kondisi pasar yang bergejolak membuat likuiditas dan diversifikasi menjadi hal yang perlu diperhatikan. Namun, setiap instrumen memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda.

Beberapa instrumen yang dapat dicermati dalam kondisi pasar tersebut antara lain SBN ritel, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan emas.

1. SBN Ritel SBR015

SBR015 memiliki masa penawaran pada 28 September hingga 22 Oktober 2026. Seri tersebut menawarkan kupon yang disebut sebagai yang tertinggi sejak 2020.

  • SBR015T2: tenor 2 tahun dengan kupon minimal 6,75% per tahun.
  • SBR015T4: tenor 4 tahun dengan kupon minimal 6,85% per tahun.

Data tersebut bersumber dari DJPPR Kementerian Keuangan. Investor tetap perlu menyesuaikan pilihan instrumen dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

2. Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang relatif dapat digunakan untuk menjaga likuiditas ketika pasar mengalami gejolak. Namun, reksadana bukan produk perbankan sehingga tidak dijamin oleh LPS.

Berdasarkan data Bareksa per 1 Oktober 2026, beberapa reksadana pasar uang mencatat return satu tahun sebagai berikut:

  • Avrist Ada Kas Mutiara: 4,81%.
  • Syailendra Dana Kas: 4,62%.
  • Sucorinvest Money Market USD: 3,69%.
  • BRI Seruni Likuid Dolar: 3,14%.

Kinerja tersebut merupakan data historis. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja pada masa mendatang.

3. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap memiliki sensitivitas terhadap pergerakan yield obligasi. Ketika yield meningkat, harga obligasi dapat turun sehingga nilai reksadana pendapatan tetap dapat mengalami perubahan dalam jangka pendek.

Beberapa produk yang tercatat dalam data Bareksa per 30 September 2026 antara lain:

  • Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A: 6,3%.
  • Trimegah Dana Obligasi Nusantara: 6,07%.
  • Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang: 4,98%.
  • Insight Renewable Energy Fund: 4,61%.
  • Avrist Emerald Stable Fund: 3,6%.

Angka tersebut merupakan return historis. Karena itu, data tersebut tidak dapat menjadi jaminan atas hasil investasi pada masa mendatang.

4. Emas sebagai Diversifikasi

Emas juga menjadi salah satu instrumen yang dapat dicermati untuk diversifikasi. Harga emas spot naik 0,54% menjadi US$4.178 per ons setelah sebelumnya turun 0,64%.

Harga beli emas digital per gram pada 2 Oktober 2026 pagi tercatat berbeda di sejumlah platform. Data Bareksa Emas mencatat harga beli Rp2.449.994 di Treasury, Rp2.444.000 di Pegadaian, dan Rp2.404.044 di Indogold.

Pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dapat digunakan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu pembelian. Dalam metode ini, investor membeli secara bertahap dengan nominal tetap pada interval tertentu.

Faktor Risiko Masih Perlu Diperhatikan

Tekanan terhadap pasar belum terlepas dari sejumlah faktor eksternal dan domestik. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan tekanan terhadap rupiah dan aset domestik.

Selain itu, harga minyak Brent yang berada di atas US$100 per barel juga menjadi perhatian. Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan setelah reshuffle kabinet serta arus jual investor asing dapat memengaruhi sentimen pasar.

Namun, pergerakan pasar dalam satu hari belum tentu menunjukkan terbentuknya sebuah tren. Karena itu, investor perlu melihat perkembangan pasar secara lebih menyeluruh dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi masing-masing.

Kesimpulan

IHSG turun 1,02% ke level 6.009,50 pada 1 Oktober 2026 dan mencatat penurunan selama enam hari berturut-turut. Pada periode yang sama, rupiah melemah menjadi Rp17.963 per dolar AS, sedangkan yield SBN 10 tahun naik menjadi 7,159%.

Penguatan dolar AS, harga minyak Brent di atas US$100 per barel, serta ketidakpastian setelah reshuffle kabinet menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan dalam kondisi pasar tersebut. Kenaikan yield juga membuat harga obligasi mengalami tekanan karena keduanya bergerak berlawanan.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor dapat mencermati instrumen seperti reksadana pasar uang untuk kebutuhan likuiditas, SBR015 selama masa penawaran hingga 22 Oktober 2026, serta emas sebagai bagian dari diversifikasi. Setiap pilihan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan masing-masing.

Pergerakan satu hari tidak selalu menjadi gambaran tren jangka panjang. Oleh karena itu, perkembangan IHSG, rupiah, yield SBN, dolar AS, harga minyak, dan kondisi pasar global tetap perlu diperhatikan.

FAQ

Apakah yield naik berarti harga obligasi turun?

Ya. Yield dan harga obligasi bergerak berlawanan. Ketika yield naik, harga obligasi cenderung turun.

Apakah reksadana dijamin LPS?

Tidak. Reksadana bukan produk perbankan dan tidak dijamin oleh LPS.

Apa itu DCA?

DCA atau dollar cost averaging merupakan metode membeli investasi secara bertahap dengan nominal tetap pada interval yang teratur.

Sampai kapan SBR015 dibuka?

Masa penawaran SBR015 berlangsung dari 28 September sampai 22 Oktober 2026.

Jaya Purnama
Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan