
Ruangojol.com - BTN Fashion Lab menjadi bagian dari dukungan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terhadap pelaku usaha fesyen dalam Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Program ini mempertemukan UMKM binaan dengan desainer terpilih untuk mendorong pengembangan produk dan membuka peluang pasar.
JFW 2027 berlangsung di Jakarta pada 26 Oktober hingga 1 November 2026. BTN terlibat sebagai official bank partner dalam ajang tersebut, yang menjadi ruang bagi desainer untuk memperkenalkan karya dan memperluas jangkauan industri fesyen Indonesia.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan, partisipasi perseroan tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan merek. BTN juga ingin mendukung pertumbuhan industri kreatif melalui kerja sama dengan desainer dan UMKM.
BTN Fashion Lab dorong pengembangan UMKM fesyen
Dalam keterangannya di Jakarta, Ramon menyebut keterlibatan BTN di JFW 2027 sebagai bagian dari komitmen mendukung industri fesyen dan ekonomi kreatif nasional. Ia juga menyampaikan bahwa perseroan ingin mendorong pelaku UMKM agar berkembang dan memiliki daya saing.
BTN mengintegrasikan BTN Fashion Lab dengan kegiatan JFW untuk mendukung UMKM binaan di sektor fesyen. Melalui program tersebut, pelaku usaha berkolaborasi dengan desainer terpilih dalam mengembangkan produk.
Kolaborasi ini memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk mengeksplorasi gagasan desain dan kreativitas. Di sisi lain, keterlibatan desainer dapat menjadi jalur untuk mengembangkan nilai tambah produk yang ditawarkan pelaku usaha.
Ramon mengatakan BTN Fashion Lab berupaya meningkatkan kualitas produk dan memperluas akses pasar bagi UMKM fesyen. Namun, dukungan itu tidak berdiri sendiri: hubungan dengan desainer dan kesempatan bertemu konsumen juga menjadi bagian dari ekosistem yang dibangun melalui ajang tersebut.
BTN turut melakukan aktivasi selama acara untuk mengenalkan produk dan layanan perbankan. Perseroan berinteraksi dengan pengunjung, desainer, serta pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan JFW.
Aktivasi itu memberi BTN kesempatan berkomunikasi langsung dengan peserta dan pengunjung. Bagi pelaku fesyen, keberadaan berbagai pihak dalam satu acara juga membuka ruang pertemuan yang dapat mendukung hubungan bisnis dan pertukaran gagasan.
JFW mempertemukan karya dengan peluang pasar
JFW berfungsi sebagai panggung bagi desainer untuk memperkenalkan karya kepada publik. Selain itu, ajang ini membantu membuka peluang agar produk fesyen nasional menjangkau konsumen di dalam maupun luar negeri.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai kekayaan wastra, keberagaman budaya, kreativitas desainer, dan keterampilan pelaku usaha sebagai modal penting. Menurut dia, berbagai kekuatan tersebut dapat mendukung pengembangan produk fesyen Indonesia yang berdaya saing.
Meski demikian, potensi kreatif perlu ditopang akses pasar, jejaring bisnis, dan kesempatan bertemu langsung dengan konsumen. Dengan dukungan tersebut, kreativitas pelaku industri dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Dyah juga menyoroti peran FashionLink sebagai platform ritel JFW. Platform itu mempertemukan desainer dan merek fesyen dengan konsumen, sekaligus memberi peluang bagi produk lokal untuk menjangkau pasar lebih luas.
Ia mengapresiasi dukungan BTN terhadap pengembangan FashionLink selama beberapa tahun terakhir, termasuk melalui BTN Fashion Lab. Program tersebut mempertemukan UMKM dengan desainer untuk membantu meningkatkan nilai tambah produk.
Dalam kesempatan itu, Dyah turut menyebut FashionLink dan Dewi Luxe Market sebagai jalur yang diharapkan dapat mendekatkan produk lokal dengan pasar. Kehadiran kanal ritel dan kolaborasi kreatif dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan karya dengan calon pembeli.
Pertemuan langsung dengan konsumen juga memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya. Sementara itu, desainer dan merek dapat menggunakan ruang tersebut untuk menjangkau audiens yang hadir di JFW.
Pasar global menjadi peluang bagi produk lokal
Dyah menyampaikan bahwa peluang pengembangan fesyen nasional juga didukung besarnya pasar global. Pada 2026, nilai pasar pakaian jadi dunia diproyeksikan mencapai sekitar 1,80 triliun dolar AS.
Besarnya pasar tersebut menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat daya saing dan memperluas penetrasi produk fesyen nasional. Namun, potensi pasar itu tidak otomatis menjadi penjualan; pelaku usaha tetap perlu menyiapkan produk dan membangun akses kepada konsumen.
Dalam konteks itu, pengembangan kualitas produk dan perluasan jejaring memiliki peran penting. Kolaborasi antara UMKM dan desainer melalui BTN Fashion Lab sejalan dengan upaya menciptakan produk yang memiliki nilai tambah, sementara platform ritel membuka ruang untuk menjangkau pembeli.
JFW menyediakan konteks bagi kolaborasi tersebut karena menghadirkan karya, pelaku industri, dan pengunjung dalam satu rangkaian acara. Bagi UMKM, kesempatan memperkenalkan produk di lingkungan fesyen dapat mendukung upaya membangun pengenalan pasar.
Meski begitu, keberlanjutan usaha membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran dalam acara. Pengembangan produk, hubungan bisnis, dan akses konsumen menjadi unsur yang saling berkaitan dalam upaya memperkuat posisi pelaku usaha.
Dukungan mencakup promosi dan penguatan usaha
Keterlibatan BTN di JFW 2027 menggabungkan pengenalan layanan perbankan dengan dukungan bagi industri kreatif. Perusahaan berinteraksi dengan pengunjung dan pelaku acara, sekaligus menjalankan program yang berfokus pada UMKM fesyen.
Bagi BTN, kemitraan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat citra sebagai bank yang modern dan adaptif. Ramon menyatakan bahwa dukungan terhadap UMKM dan industri kreatif menjadi salah satu tujuan keterlibatan perseroan di ajang tersebut.
Sementara itu, pesan dari Kementerian Perdagangan menekankan pentingnya menghubungkan potensi budaya dan kreativitas dengan akses pasar. Dengan demikian, kerja sama pelaku usaha, desainer, platform ritel, dan mitra pendukung dapat membantu produk lokal lebih dekat dengan konsumen.
JFW 2027 berlangsung selama sepekan, dari 26 Oktober sampai 1 November, di Jakarta. Dalam rangkaian tersebut, BTN Fashion Lab menempatkan pengembangan UMKM sebagai salah satu bagian dari dukungan terhadap fesyen dan ekonomi kreatif nasional.
Ke depan, peluang pasar global dan kekuatan kreatif Indonesia menjadi dua hal yang perlu berjalan beriringan. Pengembangan produk, kolaborasi, serta akses kepada konsumen dapat membantu pelaku UMKM mengambil bagian dalam pertumbuhan industri fesyen.