
RuangOjol.com - Jakarta, keluarga miliarder Weston kembali memasuki bisnis ritel Inggris setelah mengakuisisi Boots, jaringan farmasi dan kecantikan ternama, senilai US$8,9 miliar atau sekitar Rp159 triliun.
Akuisisi Boots tersebut dilakukan melalui Wittington Investments, perusahaan holding milik keluarga Weston. Perusahaan itu selama ini mengendalikan jaringan grosir Loblaws dan gerai farmasi Shoppers Drug Mart di Kanada.
Kesepakatan tersebut mencakup operasi ritel Boots di Inggris dan Irlandia. Selain jaringan tokonya, transaksi juga mencakup bisnis optik, merek kecantikan No7, serta unit waralaba Boots di Thailand.
Keluarga Weston Kembali ke Ritel Inggris
Keluarga Weston memiliki sejarah panjang dalam bisnis ritel. Akuisisi Boots sekaligus menandai kembalinya cabang Kanada keluarga tersebut ke jalan utama ritel Inggris setelah menjual Selfridges pada 2022.
Selfridges sebelumnya dilepas dengan nilai sekitar 4 miliar poundsterling atau Rp94,4 triliun berdasarkan asumsi kurs pound sterling terhadap rupiah sebesar Rp23.630. Kini, keluarga Weston kembali mengambil posisi penting melalui Boots.
Ketua Wittington Investments, Galen Weston, menilai Boots memiliki posisi yang kuat di Inggris. Ia menyebut perusahaan tersebut mempunyai sejarah panjang, nama yang dipercaya konsumen, serta peran penting dalam kehidupan masyarakat Inggris dan Irlandia.
Menurut Weston, kepemilikan jangka panjang memberikan peluang untuk mengembangkan Boots melalui investasi modal dan pembaruan fokus operasional. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja bisnis tanpa menghilangkan kekuatan merek yang sudah terbentuk.
Boots Memiliki 1.800 Gerai
Boots merupakan salah satu jaringan ritel farmasi dan kecantikan terbesar di Inggris. Perusahaan yang bermarkas di Nottingham itu mengoperasikan sekitar 1.800 gerai di seluruh Inggris.
Jaringan tersebut juga menjadi tempat bekerja bagi sekitar 50 ribu orang. Karena itu, perubahan kepemilikan Boots memiliki arti penting bagi bisnis ritel sekaligus tenaga kerja yang berada di dalam jaringan perusahaan tersebut.
Selain bisnis farmasi, Boots mempunyai berbagai lini usaha yang memperkuat posisinya di sektor ritel. Beberapa bagian penting dalam bisnis tersebut meliputi:
- Jaringan toko farmasi Boots di Inggris dan Irlandia.
- Jaringan layanan optik.
- Merek kecantikan No7.
- Unit waralaba Boots di Thailand.
Selain itu, Boots mempunyai basis pelanggan yang besar melalui bisnis farmasi dan kecantikan. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi pemilik baru untuk mengembangkan layanan serta memperkuat hubungan dengan pelanggan.
Akuisisi Boots Didukung Fairfax
Transaksi senilai US$8,9 miliar tersebut turut mendapat dukungan dari firma investasi Fairfax. Perusahaan tersebut memiliki The Sporting Life Group dan Sleep Country, yang dikenal sebagai peritel kasur terbesar di Kanada.
Keterlibatan Fairfax memperkuat struktur transaksi yang dilakukan keluarga Weston. Namun, kesepakatan ini belum langsung berlaku sepenuhnya karena masih menunggu persetujuan dari regulator terkait.
Transaksi tersebut diperkirakan rampung pada kuartal pertama 2027. Setelah proses regulasi selesai, Wittington Investments akan mengambil kendali atas operasi Boots yang termasuk dalam kesepakatan.
Akuisisi ini sekaligus mengakhiri keterlibatan Stefano Pessina sebagai pendukung jangka panjang Boots. Firma finansial Sycamore Partners yang menjadi pendukung terbaru perusahaan tersebut juga akan keluar melalui transaksi ini.
Stefano Pessina Lepas Boots Setelah 20 Tahun
Stefano Pessina memiliki hubungan panjang dengan Boots. Ia membawa perusahaan tersebut menjadi perusahaan tertutup dengan dukungan firma investasi KKR pada 2007.
Selama sekitar dua dekade, Pessina menjadi salah satu tokoh penting di balik perjalanan bisnis Boots. Ia menyebut kedekatannya dengan perusahaan tersebut sebagai salah satu pengalaman istimewa dalam hidupnya bersama istrinya, Ornella.
Meski melepas Boots di Inggris dan Irlandia, Pessina tetap mempertahankan kepemilikan atas bisnis Boots di Meksiko dan Jerman. Dengan demikian, hubungan bisnisnya dengan merek tersebut belum sepenuhnya berakhir.
Perjalanan Boots menuju pemilik baru juga tidak berlangsung singkat. Pada 2022, Walgreens sempat menawarkan Boots dengan nilai hingga 10 miliar poundsterling atau sekitar Rp236 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp23.630 per poundsterling.
Namun, rencana tersebut akhirnya batal. Sejumlah calon pembeli, termasuk Reliance Industries milik Mukesh Ambani, menghadapi kesulitan dalam mengumpulkan dana untuk menyelesaikan transaksi.
Prospek Boots di Bawah Keluarga Weston
Akuisisi Boots membuat perhatian pasar kembali tertuju pada masa depan jaringan ritel tersebut. Analis Ritel Senior Richard Hyman menilai keluarga Weston sebagai salah satu pilihan pemilik yang paling menjanjikan bagi Boots.
Menurut Hyman, Boots selama bertahun-tahun mengalami pergantian kepemilikan. Kondisi tersebut membuat perusahaan seolah terus berpindah tangan, sementara setiap pemilik membawa pendekatan masing-masing terhadap bisnis.
Kini, keluarga Weston dinilai mempunyai peluang untuk mengambil pendekatan berbeda. Sejarah mereka dalam bisnis ritel menunjukkan kecenderungan terhadap kepemilikan jangka panjang.
Hyman melihat terdapat sejumlah peluang yang dapat dimaksimalkan Boots. Salah satunya melalui skema loyalitas yang sudah memiliki basis pelanggan besar.
Selain itu, Boots dapat memperluas layanan yang tersedia di gerai. Dengan jaringan sekitar 1.800 lokasi, pengembangan layanan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai setiap toko.
Namun, tantangan bisnis tetap besar. Boots telah menutup lebih dari 300 gerai dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan biaya ritel dan persaingan dari peritel diskon menjadi sejumlah faktor yang mendorong penutupan tersebut.
Karena itu, pemilik baru perlu menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional dan investasi jangka panjang. Langkah tersebut penting agar Boots tetap kompetitif sekaligus mempertahankan posisi sebagai merek ritel yang dikenal luas di Inggris.
Tantangan Setelah Akuisisi Boots
Perubahan kepemilikan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan Boots. Perusahaan tetap menghadapi tekanan biaya dan persaingan yang semakin ketat di sektor ritel.
Di sisi lain, jaringan toko yang besar memberikan aset penting bagi Boots. Gerai fisik dapat menjadi sarana untuk menyediakan produk farmasi, kecantikan, optik, dan layanan lain secara lebih dekat dengan konsumen.
Keluarga Weston juga memiliki pengalaman mengelola bisnis ritel dalam skala besar di Kanada. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan Boots melalui strategi investasi yang lebih panjang.
Dengan demikian, perhatian berikutnya akan tertuju pada bagaimana Wittington Investments menjalankan strategi setelah transaksi memperoleh persetujuan regulator. Perubahan tersebut berpotensi menentukan arah Boots dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk saat ini, transaksi senilai US$8,9 miliar tersebut menjadi salah satu perubahan kepemilikan terbesar yang melibatkan merek ritel Inggris. Kesepakatan itu juga mempertemukan kembali keluarga Weston dengan pasar ritel Inggris setelah penjualan Selfridges pada 2022.
Jika transaksi selesai sesuai perkiraan pada kuartal pertama 2027, Boots akan memasuki babak baru di bawah Wittington Investments. Fokus pada investasi modal, layanan, loyalitas pelanggan, dan operasional akan menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan setelah pergantian pemilik.
[/CONTENT]