
RuangOjol.com - Jakarta, QRIS kini menjadi salah satu sistem pembayaran digital yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard tersebut telah mencapai 67 juta orang. Selain itu, QRIS telah digunakan oleh 46,7 juta merchant, dengan 96% di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pencapaian tersebut menunjukkan perubahan besar dalam kebiasaan masyarakat saat melakukan pembayaran. Kini, masyarakat dapat menggunakan kode QR untuk bertransaksi tanpa harus bergantung pada uang tunai. Bahkan, pedagang di pasar tradisional mulai merasakan kemudahan pembayaran digital melalui QRIS.
Namun, perjalanan QRIS tidak langsung berjalan mulus sejak pertama kali diperkenalkan pada 2019. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengenang bahwa sejumlah bank pada awalnya masih menggunakan kode QR pembayaran masing-masing. Karena itu, BI perlu meyakinkan industri perbankan mengenai manfaat penerapan standar pembayaran yang sama.
Dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia yang dikutip pada Senin (12/10/2026), Destry menceritakan tantangan saat QRIS mulai diperkenalkan. Menurutnya, BI terus menjalankan program tersebut meskipun menerima kritik dan berbagai masukan. Kini, QRIS berkembang menjadi bagian penting dari upaya memperluas inklusi keuangan dan mempermudah transaksi masyarakat.
Perjalanan QRIS Sejak Diluncurkan pada 2019
QRIS diperkenalkan pada 17 Agustus 2019 sebagai standar kode QR pembayaran di Indonesia. Kehadirannya bertujuan menyatukan berbagai kode QR agar transaksi digital dapat berlangsung melalui sistem yang lebih terintegrasi.
Sebelum standar tersebut hadir, sejumlah bank telah mengembangkan kode QR pembayaran sendiri. Kondisi ini membuat penerapan sistem bersama menghadapi tantangan. Industri perbankan perlu memahami alasan penggunaan standar nasional dibandingkan mempertahankan sistem yang telah mereka miliki.
Destry mengingat bahwa dirinya baru bergabung dengan Bank Indonesia pada Agustus 2019, ketika peluncuran QRIS berlangsung. Pada masa itu, penerimaan terhadap sistem pembayaran baru tersebut belum merata. Oleh karena itu, BI harus terus menyampaikan manfaat standardisasi kepada pelaku industri.
Selain menghadapi keraguan dari sebagian bank, BI juga menerima kritik dan masukan untuk menyempurnakan implementasi QRIS. Namun, bank sentral tetap menjalankan program tersebut secara konsisten. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pembayaran yang lebih inklusif dan mudah digunakan.
Seiring berjalannya waktu, penerimaan masyarakat dan pedagang terhadap QRIS semakin berkembang. Sistem yang sebelumnya membutuhkan proses pengenalan kini mulai digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi, termasuk transaksi di pasar tradisional.
QRIS Tembus 67 Juta Pengguna dan 46,7 Juta Merchant
Pertumbuhan pengguna menjadi salah satu indikator perkembangan QRIS di Indonesia. Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna sistem pembayaran tersebut mencapai 67 juta orang. Sementara itu, jumlah merchant yang menggunakan QRIS telah mencapai 46,7 juta.
Angka tersebut memperlihatkan luasnya penggunaan QRIS dalam kegiatan perdagangan. Menariknya, sebanyak 96% merchant QRIS berasal dari kelompok UMKM. Dengan demikian, sistem pembayaran ini tidak hanya digunakan oleh bisnis besar, tetapi juga menjangkau pedagang kecil di berbagai lingkungan masyarakat.
Bagi UMKM, penerimaan pembayaran digital dapat memberikan alternatif selain uang tunai. Pedagang dapat menerima pembayaran melalui kode QR, sedangkan pelanggan dapat menggunakan layanan pembayaran yang mendukung QRIS. Proses tersebut membantu menyederhanakan transaksi ketika kedua pihak menggunakan layanan yang sesuai.
Selain itu, penggunaan satu standar pembayaran membantu mengurangi kebutuhan untuk menampilkan berbagai kode QR yang berbeda. Standardisasi tersebut menjadi salah satu tujuan utama BI ketika mendorong industri perbankan menggunakan QRIS.
Perubahan juga terlihat pada preferensi konsumen. Destry menyebut masyarakat kini semakin menyukai penggunaan QRIS, termasuk ketika berbelanja di pasar tradisional atau pasar basah. Pedagang pun mulai menerima metode pembayaran tersebut sebagai bagian dari aktivitas usaha sehari-hari.
Meski demikian, angka pertumbuhan pengguna dan merchant tidak berarti seluruh masyarakat telah memiliki akses keuangan yang sama. BI masih perlu melanjutkan upaya perluasan inklusi keuangan agar manfaat pembayaran digital dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.
QRIS Memperluas Inklusi Keuangan Masyarakat
Bank Indonesia menilai QRIS berperan dalam mempermudah masyarakat melakukan transaksi digital. Sistem ini menyediakan standar kode QR yang dapat digunakan oleh berbagai penyedia layanan pembayaran yang mendukungnya.
Salah satu manfaat pentingnya berkaitan dengan akses terhadap layanan keuangan. Sebagian masyarakat sebelumnya menghadapi keterbatasan dalam menggunakan metode pembayaran digital. Kehadiran QRIS membuka alternatif transaksi bagi pengguna dan pedagang yang dapat mengakses layanan tersebut.
Di sisi lain, kemudahan transaksi juga memengaruhi kebiasaan berbelanja. Masyarakat tidak harus selalu menyiapkan uang tunai ketika ingin melakukan pembayaran melalui QRIS. Pedagang pun memiliki pilihan untuk menerima pembayaran digital dari pelanggan.
Penggunaan QRIS di pasar tradisional menjadi contoh perubahan tersebut. Aktivitas perdagangan yang identik dengan uang tunai kini mulai memanfaatkan teknologi pembayaran. Bahkan, menurut Destry, sebagian pedagang pasar merasa senang menggunakan QRIS karena transaksi menjadi lebih mudah dan nyaman.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada ketersediaan layanan pembayaran, perangkat yang sesuai, serta kemampuan pengguna dalam mengoperasikannya. Karena itu, edukasi dan perluasan akses tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem pembayaran digital.
Dengan penerapan standar bersama, BI berharap masyarakat dan pelaku usaha dapat menikmati sistem pembayaran yang lebih terintegrasi. Langkah ini sekaligus mendukung perkembangan ekonomi digital Indonesia.
QRIS Cross-Border Sudah Terhubung dengan Tujuh Negara
Selain memperkuat penggunaan di dalam negeri, Bank Indonesia juga memperluas QRIS untuk transaksi lintas negara atau QRIS cross-border. Program ini memungkinkan transaksi pembayaran antara pengguna dari Indonesia dan negara mitra melalui sistem yang telah terhubung.
Destry menjelaskan bahwa perluasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mempermudah transaksi wisatawan. Wisatawan Indonesia di negara mitra diharapkan dapat melakukan pembayaran dengan lebih praktis. Sebaliknya, wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia juga memperoleh kemudahan ketika berbelanja.
Menurut Destry, BI terus menjajaki kerja sama dengan sejumlah bank sentral untuk memperluas jangkauan QRIS lintas negara. Minat dari negara lain juga terus berkembang, sehingga peluang penambahan mitra tetap terbuka.
Saat ini, QRIS cross-border telah terhubung dengan tujuh negara, baik untuk transaksi masuk maupun keluar. Negara-negara tersebut meliputi:
- China
- Korea Selatan
- Thailand
- Malaysia
- Singapura
- Jepang
- Timor Leste
Konektivitas tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan pembayaran digital lintas negara. Wisatawan dapat memperoleh alternatif pembayaran yang lebih praktis, sementara pelaku usaha berpotensi menjangkau pelanggan dari negara mitra.
Meski begitu, penggunaan QRIS di luar negeri tetap mengikuti cakupan kerja sama, layanan penyedia pembayaran, serta ketentuan yang berlaku di negara tujuan. Karena itu, wisatawan perlu memastikan layanan pembayaran yang mereka gunakan mendukung transaksi di negara tersebut.
Perluasan QRIS Menjadi Tantangan Berikutnya bagi BI
Perkembangan QRIS sejak 2019 menunjukkan bahwa penerapan standar pembayaran nasional membutuhkan konsistensi dan dukungan berbagai pihak. Pada tahap awal, BI harus meyakinkan industri perbankan yang telah memiliki sistem pembayaran masing-masing. Kini, sistem tersebut telah menjangkau puluhan juta pengguna dan merchant.
Selanjutnya, BI menghadapi tantangan untuk mempertahankan kemudahan penggunaan sekaligus memperluas jangkauan layanan. Pertumbuhan jumlah pengguna perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan dan pemahaman masyarakat mengenai transaksi digital.
Ekspansi lintas negara juga membuka ruang pengembangan baru. Kerja sama dengan bank sentral negara mitra dapat memperluas pilihan pembayaran bagi wisatawan dan mendukung aktivitas perdagangan. Namun, keberhasilan langkah tersebut tetap membutuhkan koordinasi dan integrasi antarsistem pembayaran.
Pada akhirnya, perkembangan QRIS tidak hanya berkaitan dengan teknologi kode QR. Sistem ini juga mencerminkan perubahan cara masyarakat bertransaksi, upaya memperluas akses keuangan, serta kebutuhan membangun konektivitas pembayaran yang lebih luas.
FAQ Seputar QRIS
1. Apa itu QRIS?
QRIS merupakan singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard. Sistem ini menjadi standar kode QR pembayaran di Indonesia agar transaksi dapat terintegrasi melalui layanan pembayaran yang mendukungnya.
2. Berapa jumlah pengguna QRIS saat ini?
Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna QRIS mencapai 67 juta orang. Sementara itu, jumlah merchant yang menggunakannya mencapai 46,7 juta, dengan 96% berasal dari UMKM.
3. Kapan QRIS pertama kali diperkenalkan?
QRIS diperkenalkan pada 17 Agustus 2019. Pada awal penerapannya, BI menghadapi tantangan karena sejumlah bank masih menggunakan kode QR pembayaran sendiri.
4. Apa manfaat QRIS bagi UMKM?
QRIS memberikan alternatif pembayaran digital bagi pelaku UMKM. Pedagang dapat menerima pembayaran melalui kode QR tanpa harus mengandalkan transaksi tunai saja, selama layanan pembayaran yang digunakan mendukung QRIS.
5. Negara mana saja yang telah terhubung dengan QRIS cross-border?
QRIS cross-border telah terhubung dengan China, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Kerja sama ini mendukung kemudahan transaksi bagi wisatawan Indonesia dan wisatawan dari negara mitra.
Kesimpulan
QRIS berkembang dari sistem pembayaran yang sempat menghadapi keraguan industri menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem pembayaran digital Indonesia. Dengan 67 juta pengguna dan 46,7 juta merchant, sistem ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama dalam menjangkau UMKM.
Selain memperluas penggunaan di dalam negeri, Bank Indonesia terus mendorong QRIS cross-border yang kini terhubung dengan tujuh negara. Ke depan, konsistensi pengembangan, perluasan akses, dan kerja sama internasional akan menjadi faktor penting untuk meningkatkan manfaat QRIS bagi masyarakat dan pelaku usaha.