Rupiah Menguat ke Rp17.887 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Editor Jaya Purnama
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

Rupiah Menguat ke Rp17.887 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

RuangOjol.com - Jakarta, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada penutupan perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026. Rupiah naik 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.887 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.

Penguatan rupiah tersebut terjadi ketika kondisi eksternal Indonesia masih terjaga. Selain itu, cadangan devisa Indonesia tetap berada pada posisi yang kuat sehingga memberikan ruang bagi stabilisasi nilai tukar.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai kondisi cadangan devisa menjadi salah satu faktor yang mendukung pergerakan rupiah. Pada September 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS.

Rupiah Menguat Didukung Cadangan Devisa

Menurut Amru, posisi cadangan devisa pada September memang sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 146,5 miliar dolar AS. Namun, jumlah tersebut masih menunjukkan kondisi eksternal Indonesia yang relatif kuat.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor. Angka itu juga setara dengan 5,2 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi tersebut berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan. Karena itu, kondisi cadangan devisa menjadi sentimen positif bagi rupiah dan menunjukkan ruang stabilisasi nilai tukar masih cukup kuat.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Rabu tidak hanya berkaitan dengan pergerakan dolar AS. Kondisi fundamental eksternal Indonesia juga ikut memberikan dukungan terhadap nilai tukar rupiah.

Pelemahan Dolar AS Ikut Menopang Rupiah

Amru menjelaskan bahwa penguatan rupiah juga ditopang oleh pelemahan dolar AS. Pasar mulai meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, dapat mengambil sikap yang lebih dovish terhadap kebijakan moneter.

Ekspektasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena arah suku bunga The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah. Ketika tekanan terhadap dolar AS berkurang, rupiah memperoleh ruang untuk bergerak lebih kuat.

Namun, ruang penguatan rupiah masih berpotensi terbatas. Pasar masih menunggu sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dalam waktu mendatang.

Salah satu perhatian utama pasar adalah risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC Minutes. Dokumen tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Pasar Menunggu Sinyal Kebijakan The Fed

Risalah rapat The Fed menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek. Investor akan mencermati isi risalah untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Jika sinyal kebijakan The Fed menunjukkan sikap yang lebih dovish, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang tambahan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih ketat dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Karena itu, pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan respons pasar global.

Selain FOMC Minutes, indeks dolar AS atau DXY juga akan menjadi perhatian. Pergerakan indeks tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

JISDOR Bank Indonesia Ikut Menguat

Penguatan rupiah juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada perdagangan Rabu, JISDOR berada di level Rp17.880 per dolar AS.

Posisi tersebut menguat dibandingkan JISDOR sebelumnya yang berada di level Rp17.910 per dolar AS. Dengan demikian, kurs acuan Bank Indonesia turut menunjukkan penguatan rupiah pada perdagangan hari tersebut.

Pergerakan JISDOR menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, arah rupiah berikutnya tetap akan dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik dan global.

Arah Rupiah Masih Dipengaruhi Sentimen Global

Dalam jangka pendek, sentimen global masih menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah. Pelemahan atau penguatan dolar AS dapat dengan cepat memengaruhi arah perdagangan mata uang regional.

Di sisi lain, kondisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat menjadi faktor domestik yang memberikan dukungan. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas eksternal yang cukup untuk menghadapi tekanan nilai tukar.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah perkembangan utama, antara lain:

  • Pergerakan indeks dolar AS atau DXY.
  • Risalah rapat FOMC dan sinyal kebijakan The Fed.
  • Perkembangan sentimen pasar global.
  • Kondisi cadangan devisa Indonesia.
  • Pergerakan kurs JISDOR Bank Indonesia.

Dengan perkembangan tersebut, penguatan rupiah pada Rabu menjadi sinyal positif, meskipun belum menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik telah sepenuhnya mereda. Pasar masih membutuhkan perkembangan lebih lanjut dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi global.

Pada akhirnya, rupiah ditutup menguat 0,07 persen ke level Rp17.887 per dolar AS. Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.880 per dolar AS. Kondisi cadangan devisa yang tetap kuat menjadi salah satu penopang, sedangkan arah kebijakan The Fed dan pergerakan DXY akan tetap menjadi perhatian utama pasar dalam jangka pendek.

Jaya Purnama
Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan