
Ruangojol.com - Pemilik deposito yang dananya segera jatuh tempo perlu membandingkan hasil bersih sebelum menentukan penempatan berikutnya. Reksadana pendapatan tetap mencatat return 0,55%–0,7% dalam sebulan hingga 25 September 2026, sementara bunga deposito bank digital yang mencapai 8% setara sekitar 0,53% per bulan setelah pajak. Namun, angka tersebut tidak berarti reksadana memberi hasil pasti atau selalu lebih unggul.
Perbedaan pentingnya terletak pada kepastian hasil dan perlindungan simpanan. Bunga deposito mengikuti kesepakatan dengan bank, sedangkan nilai reksadana berubah mengikuti pergerakan obligasi dalam portofolionya. Karena itu, investor sebaiknya menilai bukan hanya imbal hasil, tetapi juga risiko, kebutuhan pencairan, dan jangka waktu investasi.
Hitung bunga deposito setelah pajak dan batas LPS
Bunga deposito dikenai pajak final 20%. Dengan bunga 8% per tahun, hasil bersihnya menjadi 6,4% per tahun, atau sekitar 0,53% per bulan. Perhitungan ini berupa ilustrasi; bunga yang benar-benar diterima dapat mengikuti ketentuan dan penawaran masing-masing bank.
Angka bunga tinggi juga perlu dibaca bersama ketentuan penjaminan. Untuk periode 1 Oktober 2026 hingga 31 Januari 2027, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat bunga penjaminan bank umum sebesar 3,75% per tahun. Simpanan dengan bunga melebihi batas tersebut tidak termasuk dalam penjaminan LPS, meski nasabah tetap perlu memeriksa syarat penjaminan lainnya.
Sebagai pembanding, bunga deposito 3,75% per tahun menjadi sekitar 3% setelah pajak, atau kurang lebih 0,25% per bulan. Artinya, bunga digital 8% menawarkan hasil bersih lebih tinggi dalam ilustrasi tersebut, tetapi simpanan berbunga di atas batas LPS memiliki konsekuensi perlindungan yang berbeda. Deposito tetap memiliki keunggulan berupa bunga yang disepakati sejak awal apabila nasabah mematuhi tenor dan ketentuan bank.
Mengapa reksadana pendapatan tetap masih mencatat kenaikan?
Kinerja positif sejumlah produk terjadi saat pasar obligasi menghadapi tekanan. Pada 28 September, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,235%, level tertinggi dalam 19 tahun. Kekhawatiran inflasi akibat harga minyak Brent di atas US$106 per barel turut menjadi perhatian pasar.
Tekanan tersebut berjalan beriringan dengan pelemahan IHSG dan rupiah serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun. Ketika yield naik, harga obligasi umumnya turun. Meski demikian, enam reksadana pendapatan tetap membukukan return bulanan 0,55%–0,7%, sedangkan nilai aktiva bersih (NAB) masing-masing masih naik 0,02%–0,03% secara harian pada periode yang dibahas.
Komposisi portofolio dapat membantu menjelaskan ketahanan tersebut. Produk yang banyak memegang obligasi korporasi dapat menunjukkan perubahan harga lebih lambat daripada SBN yang aktif diperdagangkan. Namun, pergerakan yang tampak lebih stabil bukan berarti bebas risiko: obligasi korporasi yang jarang diperdagangkan dapat lebih sulit dijual ketika pasar mengetat.
Kupon obligasi juga dapat menjadi penyangga. Pendapatan kupon terakumulasi dalam NAB, sehingga dapat mengimbangi penurunan harga selama tekanan harga tidak melampaui pendapatan tersebut. Selain itu, sebagian produk menjaga porsi kas atau instrumen pasar uang. Avrist Emerald Stable Fund, misalnya, memiliki alokasi pasar uang 11,33%, sedangkan Insight Renewable Energy Fund menaikkan likuiditas ke kisaran 10% dari sekitar 5%.
Enam produk dengan portofolio dan karakter berbeda
Return enam produk dalam sebulan berada di kisaran 0,55%–0,7% hingga 25 September 2026. Dalam setahun sampai tanggal tersebut, kinerjanya tercatat 3,67%–6,71%. Sebagai konteks, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap Bareksa minus 0,03% dalam setahun. Kinerja periode lalu tidak menjamin hasil yang sama pada masa mendatang.
- Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A: Produk syariah ini menempatkan 97,58% portofolionya pada sukuk per 31 Juli 2026. Sektor pulp dan kertas menjadi alokasi terbesar, disusul tambang logam dan mineral. Kinerjanya setahun hingga Juli mencapai 6,44%, dibanding tolok ukur 3,28%.
- Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang: Per 31 Agustus 2026, sekitar 91,48% portofolionya berada di surat utang korporasi dan pemerintah. Produk yang diluncurkan pada Agustus 2025 ini juga memiliki fitur pembagian hasil investasi berkala.
- Trimegah Dana Obligasi Nusantara: Produk ini mengalokasikan 96,73% portofolio pada obligasi domestik per 31 Agustus 2026. Sejumlah penerbit dalam portofolionya bergerak di sektor seperti sumber daya, pulp dan kertas, serta material baterai.
- Insight Renewable Energy Fund: Portofolionya mencakup obligasi korporasi sektor energi, petrokimia, dan pertambangan. Sebagian pendapatan manajer investasi dialokasikan untuk program pengembangan energi terbarukan.
- I-Hajj Syariah Fund: Produk yang beroperasi sejak Januari 2005 ini memiliki portofolio sukuk sebesar 95,42%. Fitur produknya mencakup penyisihan dana infak untuk membantu masyarakat kurang mampu menunaikan ibadah haji.
- Avrist Emerald Stable Fund: Selain porsi pasar uang 11,33%, portofolionya mencakup instrumen sektor keuangan, termasuk deposito, obligasi, dan sukuk. Produk ini juga memiliki obligasi Pindo Deli Pulp and Paper Mills.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa label reksadana pendapatan tetap tidak berarti semua produk memiliki isi dan risiko serupa. Beberapa portofolio sama-sama memiliki eksposur ke sektor pulp dan kertas, energi, atau pertambangan. Konsentrasi pada sektor tertentu dapat membuat kinerja lebih rentan jika sektor atau penerbit terkait mengalami tekanan.
Pilih instrumen berdasarkan kapan dana digunakan
Deposito dan reksadana pendapatan tetap melayani kebutuhan yang berbeda. Deposito menawarkan bunga sesuai kesepakatan dan dapat dijamin LPS jika memenuhi persyaratan, termasuk batas bunga dan nilai simpanan. Sebaliknya, reksadana tidak dijamin LPS, tidak menjanjikan hasil tetap, dan memiliki risiko suku bunga, kredit, serta likuiditas.
Unit reksadana dapat dijual pada hari bursa, tetapi pencairan dana dapat memerlukan waktu hingga tujuh hari bursa. Investor perlu mempertimbangkan jeda ini sebelum menempatkan dana yang mungkin segera dibutuhkan. Untuk dana darurat, reksadana pasar uang dapat dipertimbangkan karena relatif stabil dan lebih sesuai untuk kebutuhan likuiditas, tetapi tetap memiliki risiko investasi.
Deposito dalam batas penjaminan dapat dipilih untuk kebutuhan yang tanggal penggunaannya sudah jelas dan sesuai tenor. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dapat dipertimbangkan untuk horizon sekitar satu hingga tiga tahun, dengan memahami bahwa nilainya bisa naik maupun turun. Pembelian bertahap dapat membantu menyebar waktu masuk, tetapi tidak menghapus risiko pasar.
Investor yang mencari kupon dengan batas minimal juga dapat mencermati SBR015, yang saat itu ditawarkan hingga 22 Oktober 2026. Imbal hasil minimalnya tercatat 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun. Instrumen ini memiliki ketentuan dan jangka waktu tersendiri, sehingga calon investor perlu membaca informasinya sebelum memutuskan.
Perhatikan risiko sebelum mengejar return
Kenaikan yield SBN atau obligasi global dapat menekan harga obligasi dan NAB. Di sisi lain, penerbit obligasi korporasi berisiko mengalami penurunan peringkat atau gagal bayar. Risiko konsentrasi dan likuiditas juga patut diperiksa, khususnya pada produk yang menempatkan porsi besar di sektor atau penerbit tertentu.
Perbandingan return bulanan tidak cukup untuk menentukan pilihan. Cocokkan instrumen dengan kebutuhan pencairan, toleransi terhadap perubahan nilai, jangka waktu, dan pemahaman atas risiko. Bunga deposito 8% menghasilkan ilustrasi bersih sekitar 0,53% per bulan, tetapi berada di atas batas bunga penjaminan LPS; reksadana yang mencatat kenaikan pun tetap dapat mengalami penurunan.