
RuangOjol.com - Jakarta, PT SMPlus Digital Investama (SM+) resmi menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi bisnis pusat data milik Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia. Langkah ini memperkuat posisi kelompok usaha Sinar Mas dalam industri infrastruktur digital yang terus berkembang.
Transaksi tersebut mencakup lima fasilitas pusat data yang telah beroperasi di sejumlah wilayah strategis. Lokasinya meliputi Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru. Akuisisi ini menjadi bagian dari perkembangan investasi di sektor penyimpanan dan pengolahan data di Indonesia.
SM+ merupakan platform investasi infrastruktur dan layanan digital yang mendapat dukungan Sinar Mas. Sementara itu, PDG menegaskan bahwa pelepasan aset tersebut bukan tanda perusahaan meninggalkan pasar Indonesia. Sebaliknya, perusahaan ingin memperkuat bisnis pusat data berskala besar untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
SM+ Akuisisi Lima Fasilitas Pusat Data PDG
Perjanjian akuisisi ini mencakup lima fasilitas pusat data yang sudah beroperasi. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan SM+ akses terhadap aset infrastruktur digital di beberapa wilayah penting di Indonesia.
PDG pertama kali memasuki pasar Indonesia pada 2019 melalui akuisisi portofolio pusat data yang telah tersedia. Setelah itu, perusahaan mengembangkan aset tersebut melalui investasi dan peningkatan fasilitas. Upaya itu bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus memerlukan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data lebih besar.
Kini, aset yang menjadi bagian dari transaksi tersebar di empat kawasan utama, yaitu:
- Jabodetabek: kawasan metropolitan dengan aktivitas bisnis dan kebutuhan layanan digital yang besar.
- Bandung: salah satu wilayah yang masuk dalam portofolio fasilitas pusat data tersebut.
- Surabaya: pusat kegiatan ekonomi di Jawa Timur yang turut menjadi lokasi aset.
- Pekanbaru: wilayah di Sumatra yang melengkapi persebaran fasilitas pusat data.
Meskipun perjanjian akuisisi telah ditandatangani, rincian nilai transaksi dan jadwal penyelesaian tidak tercantum dalam informasi yang tersedia. Karena itu, nilai investasi maupun waktu efektif pengalihan aset belum dapat dipastikan.
PDG Tetap Berinvestasi di Pasar Indonesia
Princeton Digital Group menegaskan bahwa penjualan lima fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Perusahaan ingin membangun kehadiran operasional yang kuat, mencapai skala usaha yang lebih besar, kemudian mengembangkan layanan pusat data untuk pelanggan berskala besar.
CEO PDG, Rangu Salgame, menjelaskan bahwa perusahaan memasuki Indonesia melalui akuisisi portofolio pusat data yang sudah mapan. Selanjutnya, PDG berinvestasi untuk memperluas kemampuan operasional sekaligus membangun bisnis pusat data berskala besar atau hyperscale.
Menurut Salgame, transaksi ini menjadi langkah alami dalam strategi ekspansi perusahaan. PDG ingin terus melayani kebutuhan pelanggan hyperscale yang berkembang di Indonesia dan berbagai pasar lain di Asia Pasifik.
Dengan demikian, pelepasan sebagian aset tidak serta-merta menunjukkan penghentian kegiatan bisnis PDG di Indonesia. Perusahaan justru menyatakan komitmen untuk melanjutkan investasi dan mengembangkan fasilitas yang mendukung kebutuhan pelanggan berskala besar.
Kampus Pusat Data PDG Memiliki Kapasitas 400 MW
Selain portofolio fasilitas yang menjadi objek akuisisi, PDG telah mengembangkan kampus pusat data berskala besar dengan total kapasitas mencapai 400 megawatt (MW). Kampus tersebut mencakup JC2, JC3, dan JC4.
Fasilitas itu dirancang untuk melayani perusahaan teknologi besar yang membutuhkan ruang pusat data dan pasokan daya dalam jumlah besar. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan pengoperasian sistem digital, penyimpanan data, serta pemrosesan komputasi berskala tinggi.
Kapasitas 400 MW menunjukkan skala infrastruktur yang dikembangkan PDG untuk segmen hyperscale. Namun, angka tersebut merupakan kapasitas total kampus yang disebutkan perusahaan, bukan kapasitas yang dapat langsung disamakan dengan lima fasilitas dalam transaksi akuisisi.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan digital, fasilitas pusat data menjadi bagian penting dari ekosistem teknologi. Perusahaan teknologi membutuhkan infrastruktur yang mampu mendukung operasional layanan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan industri ini.
Meski demikian, pengembangan pusat data juga membutuhkan perencanaan infrastruktur yang matang. Ketersediaan listrik, jaringan telekomunikasi, lokasi, dan kebutuhan operasional menjadi aspek yang perlu diperhatikan seiring bertambahnya kapasitas.
SM+ Perluas Portofolio Infrastruktur Digital Sinar Mas
SM+ menjalankan kegiatan investasi pada bidang infrastruktur dan layanan digital dengan dukungan Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Akuisisi bisnis pusat data PDG memperluas keterlibatan platform tersebut dalam industri infrastruktur digital Indonesia.
Sebelumnya, SM+ juga mengumumkan kerja sama dengan pihak dari Korea Selatan untuk mendirikan pusat data kecerdasan buatan bernama SMX01 di Jakarta. Rencana tersebut menunjukkan perhatian perusahaan terhadap kebutuhan infrastruktur yang mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Pusat data memiliki peran penting dalam mendukung pemrosesan AI karena teknologi tersebut dapat membutuhkan sumber daya komputasi dan kapasitas penyimpanan yang besar. Selain itu, pertumbuhan layanan digital turut meningkatkan kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur yang mampu menangani beban kerja secara efisien.
Melalui akuisisi lima fasilitas PDG dan rencana pengembangan pusat data AI, SM+ memperluas portofolio investasinya di sektor digital. Namun, dampak langsung transaksi terhadap kapasitas operasional SM+ dan rencana investasi berikutnya masih bergantung pada rincian pelaksanaan yang belum dijelaskan.
Persaingan Infrastruktur Digital Indonesia Semakin Penting
Transaksi ini berlangsung ketika kebutuhan terhadap layanan digital terus mendorong perhatian pada infrastruktur pusat data. Perusahaan membutuhkan fasilitas untuk menyimpan, mengelola, dan memproses data dalam mendukung berbagai layanan berbasis teknologi.
Kepemilikan fasilitas yang sudah beroperasi dapat memberikan akses terhadap aset yang telah dibangun dan dikembangkan sebelumnya. Bagi SM+, langkah ini membuka peluang memperluas portofolio pusat data tanpa hanya mengandalkan pembangunan fasilitas baru.
Di sisi lain, strategi PDG memperlihatkan pemisahan antara pengelolaan portofolio aset yang sudah mapan dan pengembangan bisnis hyperscale. Perusahaan menyatakan akan terus berinvestasi untuk memenuhi permintaan pelanggan di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.
Meski begitu, keberhasilan strategi masing-masing perusahaan tidak hanya bergantung pada jumlah fasilitas. Kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan, menjaga keandalan layanan, dan mengelola kebutuhan energi juga berperan penting dalam perkembangan bisnis pusat data.
Kesimpulan
SM+ menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi bisnis pusat data PDG di Indonesia yang mencakup lima fasilitas di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru. Transaksi ini memperkuat portofolio infrastruktur digital SM+ yang didukung Sinar Mas.
Sementara itu, PDG menegaskan tetap berkomitmen pada pasar Indonesia melalui pengembangan kampus pusat data hyperscale berkapasitas total 400 MW, yang mencakup JC2, JC3, dan JC4. Dengan perkembangan tersebut, kedua perusahaan memiliki langkah strategis masing-masing dalam menghadapi kebutuhan infrastruktur digital yang terus berkembang.
FAQ
1. Apa yang diakuisisi SM+ dari PDG?
SM+ menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi bisnis pusat data PDG di Indonesia yang mencakup lima fasilitas yang telah beroperasi.
2. Di mana lokasi lima fasilitas pusat data tersebut?
Fasilitas tersebut tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.
3. Apakah PDG akan meninggalkan Indonesia setelah transaksi?
Tidak. PDG menyatakan bahwa transaksi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dan perusahaan berencana melanjutkan investasi untuk melayani pelanggan hyperscale.
4. Berapa kapasitas kampus pusat data PDG?
PDG menyebut kampus pusat datanya memiliki total kapasitas 400 MW dan mencakup fasilitas JC2, JC3, serta JC4.
5. Apa hubungan SM+ dengan Sinar Mas?
SM+ merupakan platform investasi infrastruktur dan layanan digital yang didukung Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).