Tolong Jangan Mematikan Rezeki Kami

Tolong Jangan Seenaknya Mematikan Rezeki Kami Selamat pagi, Teman-teman. Perkenalkan nama saya Saiful, seorang pengemudi ojek online roda dua di daer
[CURHAT GRAB DRIVER]
Tolong Jangan Seenaknya Mematikan Rezeki Kami

Selamat pagi, Teman-teman.
Perkenalkan nama saya Saiful, seorang pengemudi ojek online roda dua di daerah Jepara.

Menjadi driver ojol itu hampir sama seperti pekerjaan lain. Kita berangkat pagi-pagi pulangnya malam hari. Untuk apa? Yang pastinya sih mencari rejeki sebanyak-banyaknya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga.


Sama seperti seorang dokter yang buka jam praktek di rumah sakit mengobati orang-orang.

Sama seperti seorang guru yang mendidik dan menjelaskan materi ke murid-murid di sekolahan.

Sama seperti pilot yang menerbangkan pesawat mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan.

Kita sama-sama bekerja untuk membantu orang lain.

Tetapi saya cukup sedih. Beberapa (tidak semua) pengguna jasa ojol cenderung meremehkan pekerjaan kami.

Tanpa berpikir panjang mereka dengan mudahnya memperlakukan kami seolah kami ini 'budak' tanpa memiliki otoritas atas diri sendiri. Hiks!

Pernah suatu ketika saya mendapat order pengiriman barang. Setelah melakukan obrolan kecil saya memilih untuk menolak apa yang diminta dengan sopan.

Eh malah dikata-katain dengan kalimat-kalimat yang sangat tidak enak didengar.

Lha, bagaimanalah saya mau menerima order kalau user meminta dibelikan minuman keras, yang secara agama dan negara saja dilarang. 😢

User tetap bersikeras ingin dibelikan dengan dalih nanti bilangnya beli es jeruk racikan ke pedagangnya ukuran besar, dia udah tahu kok.

Untungnya di samping saya ada teman grab driver lain yang memberitahu kalau di warung yang dituju itu memang sering digunakan orang-orang tertentu untuk meneguk sensasi minuman haram, kalau tidak, pastilah saya sudah terjerumus dalam jebakan mereka.

Dear para user ojol yang budiman, mbok ya kalau mau beli minuman haram jangan libatkan kami. Plis...

Saya masih ingat betul perkataan mamak saya, "Nak, bekerjanya yang hati-hati. Jangan mau anterin barang-barang haram. Karena yang memproduksi, mendistribusi, mengkonsumsi, menuang, menyajikan, dan memfasilitasi minuman keras akan sama-sama berdosa."

Setidaknya itulah pesan mamak saya di dalam ajaran agama saya. Jadi saya juga takut, bukannya bekerja meraih rejeki barokah malah akan mengundang musibah.

Baiklah kita tinggalkan kisah di atas, lanjut ke curhat berikutnya. (Halaaaah)

Sudah sekitar dua pekan ini sejak tanggal 26 Feb. saya tidak bisa menggunakan aplikasi ojek driver lagi. Hiks.... Hiks.... Hiks....

Padahal baru beberapa hari lalu, tanggal 6 Feb. bapak saya telah berpulang ke rahmatullah, sementara adek saya ada yang masih sekolah kelas satu SMP dan kelas satu SMA.

Mereka baru saja menyandang status yatim, dan kini tiba-tiba saja akun saya dinonaktifkan.
Huaaa...
Bingung...
Syediih...
Ngga tahu lagi harus kerja apa...

Jadi ceritanya, pada tanggal 26 Feb. lalu sekitar pukul 18.30 saya dapat order kesebelas, diminta untuk membelikan nasi goreng di depan Hotel Asia.

"Mas, belikan nasi goreng di Pak Yo, ya. Di depan hotel Asia. Kalau bukan Pak Yo aku nggak mau."

"Baik, Kak. Saya ke lokasi dulu mau cek buka apa tutup."

Send.

Saya yang saat itu lagi rehat usai shalat Maghrib di Masjid Agung segera meluncur ke lokasi yang jaraknya memang deket.

"Mohon maaf, ini dengan Pak Yo?" aku bertanya kepada salah satu penjual nasgor setelah celingak-celinguk mencari menebak-nebak. Soalnya memang tidak ada spanduk atau apalah yang bisa terbaca jelas.

"Injeh, Mas. Pripun?"

Saya pun kembali menghubungi user dan menanyakan berapa jumlah makanan yang harus saya beli.

"Dua nasi goreng pedes ditambah sate gongso satu pedes."

"OK."

Dududududu, saya segera mencari posisi duduk dan menyibukkan diri dengan suasana sekitar. Mengamati para pembeli yang lebih duluan datang.

"Mas beliin token pulsa listrik di indomaret dong. Daripada nunggunya lama, kan?" Dari user, tahu aja ya kalau antrean nasi gorengnya ini lama, ada aja permintaannya.

Oke setelah saya ke indomaret terdekat saya kirimkan kode token pulsa listrik dalam bentuk message teks.

Well, nasi goreng udah mateng. Udah saya bayar. Tibalah saatnya ke rumah user.

"Kak, aku otw ya, Kak. Ini pengantaran persisnya di mana ya kak? Mungkin ciri-ciri rumahnya."

"Oke. Sesuai titik. Rumah warna biru. Nomor 28."

Kupacu kuda besi secepat kilat. Tetapi mendadak jalannya ditutup. Lagi ada khajatan.

Saya tanya-tanya, akhirnya nemu jalan lain. Walaupun terpaksa harus muter jauh, nggak apa-apalah.

Tiba di rumah user, nasi goreng dan sate kuberikan. Diterima dengan baik diberikan bintang lima dan tak lupa uangnya diganti.

Well, sampai di sini terasa baik-baik saja ya.

Saya pun kembali dan memutuskan untuk pulang. Dalam hati udah bahagia banget bisa bawa pulang uang 80K dengan tambahan insentif 40K pada keesokan harinya.

Akan tetapi...
Harapan tinggallah harapan, keinginan tinggallah sebuah keinginan. Tambahan insentif 40K tidak pernah diberikan. Justru akun yang dibekukanlah yang saya dapatkan.

😢😢😢😢

Tidak tinggal diam, saya pun mencoba menghubungi pihak customer service kantor dan menanyakan apa hal yang terjadi.

Seperti yang ditulis dalam email, diterangkan bahwa ada barang ketinggalan dari penumpang, karenanya akun saya dibekukan.

Saya kemudian berpikir kira-kira barang apa sih yang tertinggal? Saya cek di kendaraan tidak ada apa-apa. Kemudian saya menebak apakah mungkin kode token pulsa?

Esok hari, tanggal 27 Feb. saya kembali ke rumah nomor 28. Akan tetapi rumahnya sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Mungkin saja sedang pergi.

Malam harinya saya kembali lagi menyambangi. Eh itu rumah dari jauh tampak gelap sendiri di antara rumah-rumah yang lain.

Duuuh, dalam hati langsung ngerasa bersalah gitu.

Saya ketok-ketok pintu namun tak ada satu pun yang menjawab. Saya teriak-teriak, malah ada tetangga yang datang.

Rupanya penghuni rumah tersebut tengah pergi di acara saudaranya yang menikah. Tetapi alhamdulillah saya diberikan nomor telepon.

Kemudian saya menghubungi beliau dan menceritakan apa yang menimpa saya. Tak lupa saya pun mengajaknya bertemu dan memberikan kode token pulsa listrik.

Dia bilang sangat menyesal telah melaporkan saya ke pihak customer service kantor pusat. Tetapi nasi telah menjadi bubur.

Kini, sudah dua minggu saya tidak bisa mengaktifkan akun driver. Dan saya masih bingung mencari pekerjaan untuk membiayai kebutuhan ibu saya yang menjanda dan adik-adik saya yang menjadi yatim.

Duhai user ojol yang budiman, pesan dari saya adalah, sebelum melaporkan kejadian, mohon dipikir-pikir ulang. Apakah memang perlu hal itu dilaporkan? Apakah memang seurgent itu? Kalau dirasa pelanggarannya tidak terlalu berat sebaiknya ditahan lagi. Plis ditahan.

Karena kita tidak pernah tahu, seberapa berpengaruhnya keputusan kita itu untuk keberlangsungan kehidupan orang lain.

Sekian saja curhatan dari saya.
Bila dirasa tulisan ini ada manfaatnya, bdipersilakan untuk di-share kepada teman-teman.

#savedriverojol #berikamiresponspositif #curhatojol