Kisah Haru di Ruang Mediasi Grab Indonesia

Segala hal yang diniatkan dengan baik, insya Allah akan berbuah baik pula. Mungkin tak segera terlaksana, tapi insya Allah akan tiba pada waktunya.
Segala hal yang diniatkan dengan baik, insya Allah akan berbuah baik pula. Mungkin tak segera terlaksana, tapi insya Allah akan tiba pada waktunya.

Itu yang saya rasakan saat memenuhi undangan Grab Indonesia untuk bertemu dengan tim public relation dan dua orang mitra pengemudi di Maspion Plaza, Senin 6 Januari 2020.

FYI: Beberapa waktu lalu sempat terjadi salah paham antara saya dan dua mitra pengemudi, tepatnya 26 Desember 2019. Intinya, dua mitra pengemudi tidak dapat mengangkut saya -- sebagai customer -- atas kondisi saya yang tunanetra.

Alhamdulillah, hari ini kami bertemu, dan masalahnya telah clear.


"Saya tidak tahu kalau Mas tunanetra. Andai saja saya tahu...." ungkap Pak Suharno, pengemudi Grab Car. Pria yang telah lanjut usia itu tak sanggup lagi berkata-kata, hanya tetes air mata yang mewakili perasaannya.

Begitu pula Pak Mulyono selaku driver Grab Bike. Beliau menyesal karena saat itu mengabaikan dan tidak mengangkut saya.

Apa yang dua driver itu rasakan, andai saja orang tahu, pun juga saya rasakan saat itu. Saya terharu karena suka atau tidak, mata rantai pencaharian kedua driver itu sempat terputus dengan adanya persoalan ini.

Jika saya diam, tak akan ada solusi. Jika saya bersuara....ya, seperti ini jadinya. Namun demi terciptanya kesadaran masyarakat, mau tak mau saya pun memilih untuk menempuh jalur ini (memposting permasalahan saya secara umum via online).


Namun semua telah berlalu, dan sekali lagi saya bersyukur karena segalanya berakhir baik.

Ya, berakhir baik. Tak ada driver yang dengan niat jahat ingin mengabaikan customer. Tak ada pula seorang customer tunanetra yang "merasa puas" karena berhasil membuat dua driver Grab terkena suspend.

Lalu siapa yang salah? Tidak ada, karena yang ada hanyalah salah paham, dan semua telah selesai dengan baik.

Saya -- yang kebetulan didampingi rekan Steven Primadona dari SRS dan adik saya Anggo dari Rakyat Merdeka -- melanjutkan silaturahim dengan berbincang seputar peningkatan layanan Grab bagi penyandang disabilitas.


Hadir dalam kesempatan itu Mbak Shally selaku mediator dari Grab, juga beberapa rekan dari Komunitas Dua Roda dan lainnya.

"Ternyata masih banyak driver Grab yang belum mengetahui bahwa tunanetra sudah dapat meng-order Grab secara mandiri," aku Mbak Shally. Hal senada juga diakui beberapa rekan dari Komunitas Dua Roda.

Tak lama berselang, adik saya pun nyeletuk, "pas saya tahu kakak kena masalah, saya bukannya mengasihani dia, tapi pihak Grab. Ya, soalnya power of people with disability itu kuat banget. Syukurlah semua berakhir damai." Lebih lanjut, Anggo menyarankan pada pihak Grab untuk membuat training atau penyuluhan seputar teknologi dan akses layanan yang digunakan customer tunanetra.

Kami lalu menandatangani surat perjanjian masing-masing. Intinya, masalah ini clear dan sudah berakhir.

Maka, sama halnya dengan ketika saya mengangkat masalah ini ke permukaan. Kali ini pun saya tampilkan foto bersama Pak Suharno dan Pak Mulyono, bukan lagi untuk mengangkat isu kesadaran masyarakat, tapi untuk mengapresiasi kedua driver ini.

Mohon doanya agar Pak Suharno dan Pak Mulyono Allah beri rezeki pengganti akibat hilang sementara saat beliau berdua kena suspend sementara.

Apa saya puas? Ya, saya puas. Bukan soal suspend, tapi mengetahui bahwa ke depannya, Grab -- dan jasa daring lainnya -- akan menjadi lebih baik dan bersahabat khususnya bagi penyandang disabilitas.

Terima kasih untuk Grab Indonesia yang telah memberi jalur mediasi antara saya dengan mitra pengemudi. Semoga semua mendapat pelajaran dan melakukan peningkatan untuk pencapaian yang lebih baik.

- Ramaditya Adikara