Cerita 5 Tahun Selama Menjadi Penumpang Ojek Online!

Ruangojol.com - Sewaktu saya meneruskan kuliah di pulau seberang, saya kerap memakai layanan ojek daring bahkan juga nyaris tiap hari. Sering, saya memperoleh pengalaman dan beberapa cerita mengagumkan dari beberapa sopir yang seringkali mengunggah rasa simpati, lucu bahkan juga tidak menyenangkan. Saat ini, lebih kurang lima sampai enam tahun ojek daring temani rutinitas warga Indonesia.

Sepanjang itu juga, tentu banyak jejeran bagian narasi yang rekan-rekan dengar atau rasakan bersama sopir ojek daring di sejauh perjalanan ke arah tujuan. Karena itu, saya meringkas beberapa pengalaman sepanjang lima tahun memakai layanan ojek daring.

Semoga besok ketemu lagi ya, kak!

Dua minggu beruntun, saya menumpang ojek daring yang sama motornya, sama nomor pelatnya sopirnya juga orang yang serupa. Di jalan, yang semula sama-sama diam, pada akhirnya sopir ojek daring itu ajak saya mengobrol. Saat tiba di tujuan, karena rutinitas, saya selalu menyisipkan uang panduan di tengah lipatan uang kertas.

Hari itu sama, saya menyisipkan selembar uang walaupun nominalnya tidak terlalu besar dan mengharap sopir ojek daring itu buka lipatan uang saat ia balik ke rumah. Rupanya, keinginan saya sirna. Sopir ojek daring itu buka lipatan uang dari saya pas di muka pos satpam sambil berteriak, "Kak! Mudah-mudahan esok bertemu kembali ya!" dengan muka senang.

Pertemuan keempat yang tak sengaja

Pernah tidak, berjumpa sopir ojek daring yang menyukai sharing? Peristiwa ini saya rasakan sendiri. Tiap minggu, saya pesan ojek daring dan selalu ‘menyangkut' di sopir yang serupa.

Tatap muka pertama, kami sama-sama diam. Tatap muka ke-2 , ia mulai sharing pernah bekerja di Thailand. Tatap muka ke-3 , sopir ojek daring itu ‘seolah' pamit akan pensiun dari ojek daring dan ingin kembali bekerja di Thailand.

Sesudah 2 bulan berlalu, tidak disangka pesanan saya ‘menyangkut' pada sopir yang pernah pamit itu. "Abang yang menyukai jemput saya, kan?" ia cuman ketawa, "walau sebenarnya saya tidak mangkal di sini kembali, kak. Kok dapat bertemu kembali ya?"

Kak, tolong arahkan saya ya!

Sore itu setelah berjumpa rekan-rekan, saya akan pulang ke kosan dan pesan ojek daring. Seputar lima menit, sopirnya juga tiba. Saat saya telah duduk di jok penumpang, mendadak sopir itu ngomong, "Kak, tolong tujukan saya ya."

Awalannya saya bingung, mengapa mendadak meminta ditujukan. Rupanya, sopir itu tidak ingat arah jalan ke kosan yang saya incar dan minta saya mengarahkannya.

Pak, kita salah jalan!

Baru pertama kali saya memperoleh sopir cukup sepuh. Sepulang kuliah saya berjumpa dengan Bapak itu. Beliau merekomendasikan melalui jalan alternative karena jalan yang umum dilalui sedang padat merayap. Saya juga menyepakati sarannya. Sejauh jalan kami biasa-biasa saja, melalui beberapa rumah warga yang padat, beberapa anak yang berlarian. Sampai datang di tengah pohon-pohon pinus.

Motor cicilan

Saya menumpang ojek daring dari rumah saudara. Sopirnya masih lumayan muda. Dalam perjalanan, saya menanyakan berapakah lama ia bekerja sebagai sopir ojek daring dan apa maksudnya bekerja. Jawaban dari sopir itu cukup menusuk.

Disebutkannya, ia bekerja untuk ongkos kuliah, mengurangi beban orang-tua, memberikan jajan adik-adiknya. Susahnya motor yang dipakai juga hasil menyicil dan ia yang memikul bayarannya setiap bulan. Di situ, saya benar-benar mengucapkan syukur berjumpa sama orang asing yang dapat menyadarkan saya untuk perbanyak rasa terima kasih pada Tuhan.