Aksi Demo Ojol 217 Depan Istana: 50 Ribu Driver Mogok Massal Hari Ini
Aksi demo ojol ini merupakan kelanjutan dari ketidakpuasan para pengemudi online terhadap kondisi kerja yang dinilai semakin memberatkan. Mereka merasa dipinggirkan oleh sistem algoritma, peraturan tarif yang tidak berpihak pada driver, serta absennya perlindungan hukum yang jelas. Dalam seruan aksinya, mereka juga meminta pengguna jasa ojek online, taksi daring, dan kurir digital untuk bersiap menghadapi gangguan layanan akibat aksi mogok massal ini.
Organisasi pengemudi online menyebut diri mereka sebagai "Korban Aplikator". Mereka menyuarakan keresahan yang sudah lama dipendam. Menurut mereka, pemerintah khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Perhubungan tidak tanggap terhadap tuntutan yang telah berulang kali disuarakan. Justru sebaliknya, pemerintah membuat keputusan yang kontraproduktif, seperti menaikkan tarif ojol sebesar 15 persen yang dinilai tidak berpihak pada driver.
Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda Indonesia, mengatakan bahwa Aksi 217 adalah akumulasi dari kekecewaan panjang para driver online. “Kami kecewa karena Presiden dan Menteri Perhubungan seolah menutup mata terhadap persoalan driver ojek online, taksi online, dan kurir online. Kenaikan tarif 15 persen hanya menguntungkan aplikator, bukan pengemudi,” tegas Igun dalam pernyataan tertulisnya.
Dalam aksi unjuk rasa ini, para pengemudi online menyampaikan lima tuntutan utama yang menjadi dasar pergerakan mereka, yaitu:
- Mendesak pemerintah agar menghadirkan Undang-Undang atau Perppu tentang Transportasi Online yang berpihak pada pengemudi.
- Menuntut pembagian hasil yang adil: 90 persen untuk driver dan 10 persen untuk aplikator.
- Meminta peraturan resmi tarif pengantaran barang dan makanan dari pemerintah.
- Menuntut dilakukan audit investigatif terhadap para aplikator untuk memastikan transparansi.
- Menolak sistem-sistem seperti aceng, slot, hub, multi order, dan pengkotak-kotakan driver. Mereka menuntut agar semua driver reguler dapat kembali bekerja tanpa diskriminasi sistem.
Dengan lima tuntutan ini, para pengemudi online berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah nyata. Aksi ini juga mengirimkan pesan keras kepada pihak aplikator agar tidak semena-mena dalam menetapkan sistem dan algoritma yang merugikan mitra pengemudi. Mereka menuntut transparansi, keadilan, dan partisipasi aktif dalam pengambilan kebijakan.
Dalam pernyataan resminya, Igun juga menyayangkan sikap Menteri Perhubungan yang terkesan lepas tangan terhadap permasalahan yang terjadi di dunia transportasi daring. “Kami sudah menyuarakan ini sejak Mei 2025, namun hingga kini belum ada respon yang konkret. Ini mencerminkan lemahnya kepemimpinan sektor transportasi digital,” katanya.
Igun juga menegaskan bahwa demo hari ini bukan akhir dari perjuangan para pengemudi ojek online. Bila tidak ada respon dari pemerintah, maka gerakan ini akan dilanjutkan secara nasional dengan skala lebih besar. “Selama tuntutan kami tidak ditanggapi, kami siap turun ke jalan tiap bulan, mulai Agustus hingga Desember 2025. Ini bukan sekadar aksi, ini adalah gelombang perlawanan digital dari pengemudi daring seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, pihak kepolisian dilaporkan telah menyiagakan 1.632 personel keamanan guna mengawal jalannya demonstrasi hari ini. Mereka dikerahkan untuk memastikan aksi berlangsung damai dan tidak mengganggu ketertiban umum. Jalan-jalan protokol di sekitar Istana Negara sudah mulai ditutup sejak pagi dan rekayasa lalu lintas pun dilakukan untuk mengalihkan kendaraan dari pusat aksi.
Pihak aplikator sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai aksi demo besar ini. Namun berdasarkan pengalaman dari aksi-aksi sebelumnya, biasanya mereka akan tetap berpegang pada ketentuan perusahaan dan algoritma yang sudah disusun. Para driver menilai ketidakterbukaan ini sebagai akar dari ketegangan antara mitra dan perusahaan platform digital.
Dampak aksi mogok massal hari ini diprediksi cukup besar, terutama di wilayah Jabodetabek. Banyak pengguna ojol dan kurir online yang mengaku kesulitan memesan layanan sejak pagi. Waktu tunggu meningkat tajam, tarif dinamis melonjak, dan sebagian pengiriman barang mengalami keterlambatan. Kondisi ini membuat publik semakin menyadari pentingnya peran para driver online dalam mendukung mobilitas dan logistik digital saat ini.
Aksi Aksi 217 yang berlangsung hari ini bukan hanya sekadar unjuk rasa, melainkan simbol perlawanan terhadap ketimpangan digital yang dirasakan ribuan pengemudi daring. Dengan semangat solidaritas dan tekad yang kuat, para pengemudi menuntut perubahan yang konkret. Mereka ingin diakui bukan hanya sebagai “mitra” di atas kertas, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital yang seharusnya mendapat perlindungan dan keadilan nyata dari negara dan aplikator.
Isu ini juga menjadi sorotan masyarakat luas di media sosial. Tagar #Aksi217, #MogokMassalOjol, dan #KorbanAplikator trending sejak dini hari tadi. Banyak warganet menyampaikan dukungan kepada para pengemudi, sembari menyoroti sikap pasif pemerintah yang dianggap abai terhadap suara rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari sistem digital yang tak adil.
Dengan meningkatnya tensi antara aplikator, pengemudi, dan pemerintah, Aksi 217 hari ini menjadi momen penentu. Apakah Presiden Prabowo dan jajaran terkait akan membuka ruang dialog dan merumuskan kebijakan yang berpihak pada driver online, atau justru membiarkan konflik ini terus memanas hingga memicu gelombang demo lanjutan. Waktu akan menjawab.