Kode Referral Kredivo Terbaru, Bonus Hingga 250rb Points untuk Pengguna Baru!. Klik Disini

Bukan Gojek atau Maxim, Inilah Aplikasi Ojek Online Luar Negeri yang Paling Dikenal Dunia

Ruangojol.com – Di Indonesia, nama besar seperti Gojek atau Maxim sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, di luar negeri ternyata ada banyak aplikasi transportasi online yang juga populer, bahkan mendunia. Kehadiran platform ini bukan hanya memudahkan perjalanan, tapi juga menghadirkan inovasi baru dalam layanan mobilitas modern.

Mulai dari Uber yang mengguncang pasar taksi tradisional di Amerika, hingga Grab yang sukses menjadi super-app Asia Tenggara, persaingan ojek online global begitu sengit. Setiap perusahaan punya kisah lahirnya sendiri, sosok CEO yang memimpin, dan layanan andalan yang membedakan satu dengan lainnya.

Artikel ini akan mengulas tujuh aplikasi transportasi online luar negeri yang paling dikenal dunia. Dari sejarah berdiri, lokasi operasional, hingga layanan unggulan, semua akan dibahas agar konsumen bisa memahami lebih jauh bagaimana industri mobilitas digital berkembang di berbagai negara.

Uber

Didirikan pada 2009 di San Francisco oleh Garrett Camp dan Travis Kalanick, Uber awalnya hanya aplikasi untuk memesan mobil mewah. Kini Uber berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan transportasi online terbesar di dunia. CEO saat ini adalah Dara Khosrowshahi, yang mengambil alih sejak 2017.

Uber beroperasi di lebih dari 600 kota di seluruh dunia. Kantor pusatnya tetap di San Francisco, namun cabang-cabangnya tersebar di Eropa, Asia, Amerika Latin, hingga Afrika.

Lokasi Operasional:

  • Lebih dari 600 kota global
  • Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Asia, Amerika Latin, Afrika

Layanan Utama:

  • UberX: layanan mobil reguler
  • UberPOOL: berbagi perjalanan
  • Uber Eats: pesan-antar makanan
  • Kendaraan listrik & sepeda listrik

Lyft

Lyft berdiri pada 2012 oleh Logan Green dan John Zimmer, bermula dari startup bernama Zimride. Fokus awalnya adalah carpooling untuk perjalanan antarkota sebelum berkembang menjadi ride-hailing besar di AS. CEO sekarang adalah David Risher sejak 2023.

Perusahaan ini berbasis di San Francisco dan layanan utamanya masih terbatas di Amerika Serikat dan Kanada. Meski begitu, Lyft jadi salah satu pesaing terkuat Uber dengan basis pengguna setia.

Lokasi Operasional:

  • Amerika Serikat
  • Kanada

Layanan Utama:

  • Transportasi mobil pribadi
  • Skuter listrik & sepeda
  • Program transportasi kesehatan (kerja sama rumah sakit)

Grab

Grab berdiri pada 2012 di Malaysia dengan nama MyTeksi, didirikan oleh Anthony Tan dan Tan Hooi Ling. Kemudian, Grab memindahkan kantor pusatnya ke Singapura dan berkembang menjadi super-app Asia Tenggara. CEO saat ini adalah Anthony Tan.

Grab tersedia di 8 negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Kehadirannya sangat dominan di wilayah ini, menjadi pesaing kuat aplikasi lokal.

Lokasi Operasional:

  • Indonesia
  • Singapura
  • Malaysia
  • Thailand
  • Filipina
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Myanmar

Layanan Utama:

  • GrabCar & GrabBike (transportasi)
  • GrabFood (pesan makanan)
  • GrabMart (belanja harian)
  • GrabPay (dompet digital & keuangan)

Bolt (Taxify)

Bolt lahir pada 2013 di Tallinn, Estonia, didirikan oleh Markus Villig saat usianya baru 19 tahun. Awalnya bernama Taxify, Bolt berkembang cepat dan kini dikenal sebagai pemain utama transportasi online di Eropa. Markus Villig masih menjabat sebagai CEO.

Kantor pusatnya di Tallinn, Estonia, dan layanannya kini hadir di lebih dari 50 negara, mencakup Eropa, Afrika, Asia Barat, dan Amerika Latin. Bolt menjadi pilihan populer di kota-kota Eropa dengan tarif yang kompetitif.

Lokasi Operasional:

  • Lebih dari 50 negara
  • Eropa, Afrika, Asia Barat, Amerika Latin

Layanan Utama:

  • Transportasi online (mobil & motor)
  • Bolt Food (pesan makanan)
  • Bolt Market (belanja)
  • Skuter listrik & car-sharing

Ola Cabs

Ola Cabs berdiri pada 2010 di Mumbai, India, oleh Bhavish Aggarwal dan Ankit Bhati. Sejak awal, Ola fokus menjadi solusi transportasi berbasis aplikasi untuk masyarakat India. CEO saat ini adalah Bhavish Aggarwal.

Kini Ola tersedia di lebih dari 250 kota di India serta berekspansi ke Australia, Selandia Baru, dan Inggris. Kehadirannya memperkuat posisi Ola sebagai pemain global, meski tetap dominan di pasar domestik.

Lokasi Operasional:

  • India (250+ kota)
  • Australia
  • Selandia Baru
  • Inggris

Layanan Utama:

  • Layanan taksi & ride-hailing
  • Ojek motor
  • Penyewaan mobil
  • Kendaraan listrik (Ola Electric)

DiDi Chuxing

Didirikan pada 2012 di Beijing, Tiongkok, oleh Cheng Wei, DiDi awalnya bernama Didi Dache. Setelah merger dengan Kuaidi Dache pada 2015, perusahaan ini semakin besar. Cheng Wei masih menjadi CEO, dengan Jean Liu sebagai Presiden.

DiDi merupakan layanan transportasi terbesar di Tiongkok, melayani hampir seluruh kota besar. Ekspansinya kini meluas ke Amerika Latin dan Asia-Pasifik.

Lokasi Operasional:

  • Seluruh Tiongkok
  • Ekspansi ke Amerika Latin
  • Beberapa negara Asia-Pasifik

Layanan Utama:

  • Ride-hailing (mobil & motor)
  • Pengantaran makanan
  • Sepeda listrik & sewa mobil
  • Kendaraan listrik & teknologi otonom

BlaBlaCar

BlaBlaCar lahir pada 2006 di Paris, Prancis, didirikan oleh Frédéric Mazzella, Nicolas Brusson, dan Francis Nappez. Berbeda dengan aplikasi lain, BlaBlaCar fokus pada carpooling jarak jauh. CEO saat ini adalah Nicolas Brusson.

Kini BlaBlaCar hadir di lebih dari 22 negara, terutama di Eropa, Amerika Latin, hingga India. Layanan ini populer untuk perjalanan lintas kota dengan biaya lebih murah dibanding transportasi publik.

Lokasi Operasional:

  • 22 negara di Eropa
  • Amerika Latin
  • India

Layanan Utama:

  • Carpooling jarak jauh
  • BlaBlaBus (layanan bus)
  • Integrasi transportasi publik

Kesimpulan

Meski di Indonesia Gojek dan Maxim mendominasi, di luar negeri nama seperti Uber, Lyft, Grab, Bolt, Ola, DiDi, dan BlaBlaCar justru jadi bintang. Masing-masing aplikasi punya sejarah unik, CEO visioner, wilayah operasi yang berbeda, serta layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal.

Bagi konsumen, memahami ragam aplikasi transportasi online dunia bisa memberi wawasan bagaimana tren mobilitas digital berkembang, dan bagaimana layanan ini bisa jadi inspirasi untuk masa depan transportasi di Indonesia.

Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan