Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Penerbangan dari CGK

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Penerbangan dari CGK

Ruangojol.com - Jakarta, penumpang yang hendak bepergian melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) diminta bersabar jika penerbangan mengalami pembatalan atau keterlambatan akibat erupsi Anak Krakatau.

Penundaan dan pembatalan penerbangan menjadi langkah keselamatan ketika abu vulkanik berpotensi mengganggu jalur penerbangan. Risiko keselamatan tentu lebih besar jika pesawat tetap beroperasi dalam kondisi tersebut.

Abu vulkanik pesawat berbeda dari awan cuaca biasa. Partikel batuan, mineral, dan silika di dalamnya tidak terdeteksi radar cuaca pesawat, tetapi dapat menimbulkan gangguan serius pada sejumlah komponen penerbangan.

Mengapa abu vulkanik pesawat berbahaya?

Partikel silika dalam abu vulkanik dapat meleleh pada suhu sekitar 1.100 derajat Celsius. Sementara itu, ruang bakar mesin jet modern beroperasi pada suhu di atas 1.400 derajat Celsius.

Lelehan silika bisa menempel pada bilah turbin dan nosel bahan bakar. Ketika mendingin, material tersebut membeku dan menghambat aliran udara. Kondisi ini dapat menyebabkan mesin kehilangan daya hingga mati mendadak di udara.

Dampak abu vulkanik terhadap pesawat

Abu vulkanik juga memiliki sifat sangat abrasif. Saat menghantam pesawat dalam kecepatan tinggi, partikel tersebut dapat mengikis kaca depan kokpit hingga buram. Akibatnya, pilot dapat kehilangan jarak pandang langsung saat hendak mendarat.

Selain itu, debu halus berisiko menyumbat tabung pitot dan static ports. Kedua komponen tersebut berfungsi mengukur kecepatan udara serta ketinggian, sehingga gangguan pada bagian ini dapat memicu kesalahan data instrumen di kokpit.

Debu vulkanik juga dapat masuk melalui sistem tata udara. Dampaknya antara lain munculnya bau belerang atau kabut asap di kabin, serta risiko panas berlebih pada perangkat elektronik penerbangan.

Risiko saat pesawat mendarat

Abu yang mengendap di landasan pacu dapat membuat permukaan menjadi licin dan memperpanjang jarak pengereman. Endapan tersebut juga berisiko merusak sistem rem serta hidrolik roda pendaratan.

Karena itu, penumpang dari CGK sebaiknya memantau informasi penerbangan dan menyiapkan waktu tambahan. Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama selama erupsi Anak Krakatau belum mereda dan arah angin masih berpotensi membawa abu vulkanik.

Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan